STRATEGI PEMASARAN PRODUK PERIKANAN
STRATEGI PEMASARAN PRODUK PERIKANAN
Oleh : Aldino Gibran Lubis, S.Pi
No : 020-Sep/Bl/PPBS/2021
Tanggal Terbit : ................................
1. PENDAHULUAN
Dalam sistem agribisnis perikanan, dimana meliputi kegiatan mulai
pengadaan sarana produksi, produksi, pengolahan pasca panen
(agroindustri), pemasaran dan kelembagaan adalah merupakan rangkaian
kegiatan yang saling terkait satu sama lain. Semua kegiatan dalam
agribisnis perikanan tersebut, ada proses menghasilkan produk. Produsen
yang bergerak di bidang sarana produksi akan menghasilkan produk-produk
pemenuhan kebutuhan untuk kegiatan produksi. Produsen yang bergerak pada
kegiatan produksi akan menghasilkan produk atau ikan untuk memenuhi
kebutuhan pada kegiatan agroindustri. Khususnya kegiatan pemasaran
(marketing), disaat produk sudah dihasilkan baik dalam kegiatan sarana
produksi, produksi dan agroindustri, maka kegiatan pemasaran sangatlah
penting. Tanpa kegiatan pemasaran maka semua produk yang dihasilkan
tersebut adalah merupakan seonggok barang yang tidak bermanfaat.
Dengan demikian, kegiatan pemasaran adalah sangat penting dalam semua
kegiatan yang menghasilkan barang ataupun jasa. Hasil perikanan dapat
dikelompokkan ke dalam bahan mentah dan barang konsumsi. Sebagai bahan
mentah dapat dibeli oleh pabrik atau usaha pengolahan untk diolah
menjadi barang jadi misalnya ikan kaleng, aneka olahan ikan, tepung
ikan, dsb. Sebagai barang konsumsi akan dibeli oleh konsumen akhir
(household consumer, restaurant, hospital, dll). Produk perikanan dan
kelautan termasuk “perishable good” atau produk mudah rusak, maka akan
sangat memerlukan startegi pemasaran yang berbeda dengan produk barang
maupun jasa pada umumnya. Apalagi “image” masyarakat terhadap
produk-produk perikanan juga berbeda atau beragam dengan produk pada
umumnya. Berdasarkan pendapat atau pengamatan dari praktisi pemasaran
produk perikanan dan kelautan, bahwa persepsi masyarakat terhadap produk
perikanan dan kelautan antara lain jika makan ikan alergi, ikan baunya
amis, ikan banyak duri, ikan mahal, ikan rumit memasaknya, ikan hanya
bisa atau paling enak digoreng. Karena image masyarakat terhadap produk
perikanan masih demikian kompleknya, maka diperlukan strategi pemasaran
yang dapat merubah image tersebut, sehingga kendala pemasaran produk
perikanan dan kelautan dapat diatasi.
2. PENGERTIAN PEMASARAN VS PENJUALAN
Pengertian pemasaran menurut beberapa ahli adalah sangat beragam,
namun yang jelas dari definisi yang saya pahami bahwa pemasaran sangat
berbeda dengan penjualan. Kebanyakan orang menyamakan pemasaran dengan
penjualan. Pemasaran adalah proses manajerial yang dilakukan oleh
individu ataupun kelompok dalam memperoleh kebutuhan dan keinginan
mereka, dengan cara membuat dan mempertukarkan produk dan nilai dengan
pihak lain (Kotler dan Amstrong, 2000; Simamora,2001 : 1). Sedangkan
menurut. Jadi, tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
individu maupun organisasi. Ma’ruf (2006 : 3-5), bahwa pemasaran adalah
kegiatan memasarkan barang atau jasa umumnya kepada masyarakat.
Aktivitas pemasaran bermula dari pengamatan kebutuhan konsumen.
Kalau kita amati uraian pengertian pemasaran tersebut, kegiatan
pemasaran diawali dari kebutuhan atau keinginan konsumen. Berdasarkan
kebutuhan atau keinginan konsumen, barulah dibuat produk. Sedangkan
kegiatan penjualan, diawali dengan membuat produk, dan dengan gencar
berusaha bagaimana produk tersebut laku dijual. Dalam kegiatan pemasaran
dituntut kreatifitas lebih dominant daripada promosi. Sedangkan pada
kegiatan penjualan, promosi lebih dominant bahkan sampai menipu
konsumen, yang penting produk terjual habis. Kalau kita menerapkan
kegiatan pemasaran maka kepuasan konsumen akan menjadi harapan atau
tujuannya. Sebaliknya penjualan, tidak memperhatikan kepuasan konsumen
yang penting barang terjual habis.
Jika kita menerapkan kegiatan pemasaran, maka kontinuitas kegiatan akan
terjamin. Tanpa pemasar (marketer) berusaha mencari pembeli untuk
membeli barangnya, pembeli akan datang atau mencari marketer atau
produsen. Yang saya tekankan disini bahwa jika pemasaran berawal dari
kebutuhan dan keinginan konsumen, maka kebutuhan atau keinginan tersebut
menyangkut kebutuhan akan keamanan pangan terhadap kesehatan manusia
dan lingkungan. Dengan demikian menurut pendapat saya kebutuhan
masyarakat tersebut tidak hanya dari aspek ekonomi yaitu bagaimana
memilih kebutuhan yang sesuai dengan kemampuan ekonomi konsumen, namun
lebih dari itu adalah adanya keseimbangan antara ekonomi, sosial dan
ekologi.
Merujuk pada norma atau kaidah-kaidah pengelolaan perikanan yang
bertanggung jawab yang dinyatakan bahwa pengelolaan perikanan adalah
proses yang terintegrasi mulai dari pengumpulan informasi, analisis,
perencanaan, konsultasi, pengambilan keputusan, alokasi sumberdaya,
formulasi dan implementasi, disertai dengan pengamanan seperlunya
terhadap peraturan yang berlaku demi menjaga kelangsungan produksi dan
pencapaian tujuan pengelolaan lainnya (FAO dalam Martosubroto, 2002).
Pengelolaan perikanan tersebut secara internasional harus mengacu pada
prinsip-prinsip pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab (The Code
of Conduct Responsible Fisheries/CCRF)
Beberapa aspek pengelolaan yang perlu diperhatikan dilihat dari beberapa
aspek adalah biologi dan lingkungan (keterbatasan sumberdaya, factor
lingkungan dan pertimbangan keragaman hayati dan aspek ekologi lainnya),
teknologi (alat penangkapan dan alat Bantu penangkapan, kapal, pasca
panen), sosio-ekonomi, aspek kelembagaan, hukum, jangka waktu dan
pendekatan kehati-hatian. Komponen pokok dalam pengelolaan : data dan
informasi (data yang benar dan tepat waktu), kerangka kelembagaan dan
hukum meliputi otoritas pengelolaan (termasuk MCS=Monitoring,
Controlling and Surveillance), hukum yang mendukungnya dan pihak yang
berkepentingan (stakeholders). Dengan demikian manajemen pemasaran
produk perikanan yang bertanggung jawab, aspek yang perlu diperhatikan
juga sama yaitu sosial, ekonomi dan ekologi.
3. STRATEGI PEMASARAN PRODUK PERIKANAN
Strategi pemasaran atau bauran pemasaran (marketing mix) adalah alat
perusahaan untuk memperoleh respon yang diinginkan. Strategi pemasaran
adalah salah satu upaya untuk mengoptimalkan proses pemasaran. Prinsip
pemasaran adalah pencapaian tujuan suatu organisasi tergantung pada
seberapa mampu perusahaan/marketer memahami kebtuhan dan keinginan
pelanggannya dan memenuhi dengan cara yang lebih efisien dan efektif
dibanding pesaing.
Berangkat dari prinsip tersebut, seorang pemasar pertama kali harus
memusatkan perhatiannya pada pelanggan untuk mencari tahu kebutuhan dan
keinginan mereka. Jadi, dalam hal ini kebutuhan dan keinginan pelanggan
menempati titik sentral. Perusahaan atau marketer harus paham betul
kebutuhan dan keinginan pelanggannya. Perlu diingat kembali bahwa
pelanggan adalah orang-orang yang berkuasa untuk memutuskan untuk
membeli atau tidak membeli suatu produk. Jadi, pelanggan adalah bagian
dari pasar, karena yang disebut pasar adalah pembeli itu sendiri baik
pembeli aktual maupun potensial. Pasar sangatlah beragam berarti
keinginan pembeli juga beragam. Fakta ini membuat perusahaan atau
marketer tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan dan keinginan pasar.
Dengan demikian, apa yang harus dilakukan perusahaan atau marketer kalau
ternyata selera pasar sangat beragam? Pertama, perusahaan harus
mengelompokkan pasar terlebih dahulu. Dengan kata lain perusahaan harus
menentukan pelanggan sasaran (target customers). Untuk produk perikanan
dan kelautan, target customers ini misalnya untuk anak-anak, orang
dewasa, balita, masyarakat kelas sosial bawah, menengah, atas, dsb.
Anak-anak saat ini suka jajan ”tempura ikan”, maka perusahaan membuatlah
tempura ikan yang bergizi dan aman di konsumsi anak-anak. Artinya tidak
mengandung bahan kimia yang berbahaya di konsumsi anak-anak dan manusia
pada umumnya. Kedua, perusahaan harus memancing agar pasar sasaran
memberikan respons yang diinginkan oleh perusahaan. Jadi, bagaimana
caranya supaya pelanggan merasa bahwa produk yang kita buat atau
pasarkan adalah yang cocok bagi mereka. Apa saja respon yang diinginkan
perusahaan? Respons tersebut adalah pasar sasaran mengenal, menyukai,
menjadikan produk sebagai pilihan, membeli produk dan menjadi pelanggan
yang loyal terhadap produk.
Untuk memperoleh respon tersebut perusahaan harus menciptakan produk
yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran, menetapkan
harga yang sesuai (tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah) bagi
pasar sasaran, menyediakan produk pada tempat-tempat yang biasanya
didatangi pasar sasaran dan melalukan promosi yang format dan metodenya
mengena dengan pasar sasaran. Alat yang bisa dikontrol oleh perusahaan
dan diarahkan untuk memperoleh respons yang diinginkan dari pasar
sasaran yang meliputi produk (product), harga (price), tempat (place)
dan promosi (promotion) yang disebut 4 P yang dikenal dengan bauran
pemasaran (marketing mix).
4. BAURAN PEMASARAN (MARKETING MIX) PRODUK PERIKANAN DAN KELAUTAN (AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI)
Ilustrasi, penerapan marketing mix pada produk ikan lele segar. Misalnya
target customer adalah konsumen di warung-warung lele goreng penyet.
Berdasarkan pengamatan di lapang bahwa ikan lele dipersepsikan
masyarakat tergolong ikan kelas rendah artinya tidak punya prestise di
kalangan masyarakat kelas atas, sehingga konsumen ikan lele adalah
masyarakat menengah ke bawah. Masyarakat yang mengkonsumsi ikan lele
goring, suka pada ukuran sedang sampe kecil (size 8-10). Hal ini
dikarenakan jika lele untuk dikonsumsi sebagai lele goreng, maka ukuran
lele yang sedang sampe kecil lebih gurih. Berarti jika kita mau memenuhi
kebutuhan konsumen ikan lele goreng, maka strategi produk ikan lele
yang akan dijual tersebut sesuai dengan selera masyarakat yaitu ukuran
atau size 8-10 (satu kg berisi 8-10 ekor lele).
Lain lagi, dengan jika kita menentukan target customer kita adalah kelas
atas. Karena lele dianggap tidak prestise oleh kalangan atas, maka
strategi produk kita adalah bagaimana membuat lele tersebut menjadi
olahan yang cocok atau sesuai yang dibutuhkan kelas atas. Misalnya,
dengan daya kreasi bahwa ikan lele tidak hanya bisa digoreng, tetapi
dapat dibuat produk olahan sosis lele, steak lele, nugget lele, lele
asam manis, tempura lele, dll. Jika target kita untuk memproduksi olahan
lele menjadi sosis, steak, atau nugget, maka yang dibutuhkan adalah
ikan lele ukuran besar yaitu size 2, karena yang dibutuhkan dagingnya
dan untuk steak lele perlu fillet ikan lele dan hanya bisa dilakukan
fillet pada ukuran lele yang besar.
Untuk strategi harga, seperti telah diuraikan sebelumnya, bagaimana
menentukan harga lele goreng penyet, sosis lele, nuget lele, steak lele,
lele asam manis tersebut sesuai artinya tidak terlalu mahal dan murah.
Tentunya harga tersebut juga erat kaitannya dengan strategi tempat
(place). Lele goreng penyet dapat dijumpai di warung-warung, yang mana
bahan baku umumnya diperoleh di pasar tradisional, pasar ikan atau
tukang sayur. Sedangkan untuk steak lele dan lele asam manis yang terget
customernya kelas menengah ke atas tentunya tempat menyesuaikan
misalnya di restoran yang lebih tinggi tingkatannya daripada warung.
Sosis lele dan nuget lele dapat menerobos mini market, supermarket, atau
dijual ke kantor-kantor yang merupakan target customer menengah ke atas
dan orang sibuk yang tidak sempat memasak sendiri.
Strategi promosi diperlukan untuk kelas menengah ke atas, sedangkan
kelas bawah tidak perlu promosi. Hal ini disebabkan bahwa promosi perlu
dilakukan untuk merubah image kelas menengah ke atas terhadap lele,
dengan tujuan semua kalangan menyukasi dan mempersepsi baik terhadap
produk lele. Promosi diarahkan pada diversifikasi produk olahan lele
(sosis lele, nuget lele, lele asam manis, steak lele, dll) yang cukup
bergengsi dipandang oleh masyarakat kelas menengah ke atas.
Sebaliknya untuk produk udang segar (agribisnis), juga produk olahan
berbasis udang (agroindustri) bahwa persepsi masyarakat terhadap produk
tersebut sangat mahal. Dengan demikian produk udang segar dan olahannya
termasuk golongan prestise atau bergengsi yang mengkonsumsi kelas
menengah ke atas saja. Sekarang bagaimana strategi produk udang segar
dan olahannya yang dapat dikonsumsi oleh kelas bawah juga. Dengan
demikian pasar domestik banyak menyerap produk udang segar dan
olahannya. Selama ini udang segar sebagian besar di eksport. Kendala
untuk mengeksport sangat banyak, mulai kualitas produk, kemasan, harga,
pengiriman, dll. Dengan permintaan udang pasar domestik tinggi maka
kendala eksport udang akan teratasi. Produksi udang budidaya akan habis
terjual di pasar domestik.
Berkaitan dengan marketing mix, point apa saja yang harus menjadi
perhatian pada produk perikanan dan kelautan? Sebagai contoh, misalnya
perusahaan atau marketer mengamati dari fenomena yang terjadi dalam
masyarakat bahwa mulai anak-anak suka jajan tempura ikan di
sekolah-sekolah, ibu-ibu karier sehingga menginginkan praktis dalam
kegiatan domestik dengan membeli lauk yang sudah dimasak, bapak-bapak
karier tidak mau makan lele karena image lele jenis ikan rendah, dll.
Nah bagaimana seorang marketer atau perusahaan menyikapi hal ini
dikaitkan dengan marketing mix.
4.1 Produk (Product)
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan oleh individu rumah
angga maupun organisasi ke dalam pasar untuk diperhatikan, digunakan,
dibeli maupun dimiliki.
• Bagaimana variasi produk berbasis lele, apakah hanya satu jenis saja
misal tempura, atau diupayakan beberapa jenis olahan yang dapat diterima
semua baik anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak.
• Bagaimana kualitas produk olahan lele, apakah tinggi, sedang atau
rendah. Sebaiknya kualitas olahan lele kualitas, selain penampilan fisik
produk juga diperhatikan dari sisi keamanan pangan. Bahan-bahan untuk
mengolah termasuk produk yang aman untuk dikonsumsi
• Bagaimana desain produk
• Apa mereknya
• Fitur apa yang perlu ditampilkan pada produk
• Kemasan bagaimana
• Ukurannya bagaimana
• Apakah perusahaan menerima produk yang rusak, dll
4.2 Harga (Price)
Harga adalah sejumlah nilai yang dipertukarkan untuk memperoleh suatu
produk. Untuk menetapkan sembarang harga adalah mudah. Menentukan harga
yang tepat adalah sulit. Harga yang tepat yaitu tidak terlalu mahal di
mata konsumen, masih memeberikan keuntungan bagi perusahaan dan tidak
menjadi kelemahan perusahaan di mata pesaing. Sehubungan dengan harga,
banyak hal yang harus dipikirkan oleh perusahaan yaitu :
• Berapa tingkat harga yang ditetapkan
• Seberapa bebas perantara dalam menetapkan harga, karena umumnya
perantaralah (bukan produsen) yang berhubungan dengan konsumen akhir.
Berapa harga minimum dan maksimum yang bisa diterapkan oleh perantara
(allowances)
• Berapa lama jangka waktu pembayaran
• Bagaimana persyaratan-persyaratan untuk pembelian secara kredit
4.3 Tempat (Place)
Tempat adalah lokasi dimana konsumen biasanya membeli produk tersebut.
Misalnya tempat menjual lele penyet di warung, tempura lele di
sekolah-sekolah, sosis, nuget lele di mini market, super market, steak
lele dan lele asam manis di restoran, dst. Tempat yang dimaksud dalam
bauran pemasaran adalah menyediakan produk kepada konsumen pada tempat
yang tepat, kualitas yang tepat dan jumlah yang tepat. Hal-hal yang
perlu direncanakan berkaitan dengan tempat adalah :
• Saluran pemasaran
• Cakupan pasar
• Keanekaragaman produk (assortment)
• Lokasi
• Manajemen persediaan
• Transportasi dan logistik
• Apa sasaran yang ingin dicapai melalui promosi
• Berapa anggaran yang diperlukan
• Apa pesan yang ingin disampaikan
• Apa metode promosi yang digunakan, apakah iklan, personal selling, hubungan masyarakat, promosi penjualan ataukah pemasaran langsung.
5. PEMILIHAN PASAR SASARAN (TARGET MARKET)
Target market adalah bagian pasar yang dijadikan sebagai tujuan
pemasaran. Perusahaan dapat mencapai tujuannya hanya kalau memahami
kebutuhan dan keinginan konsumen dan mampu memenuhinya dengan cara yang
lebih efisien dan efektif dibanding pesaing. Konsekuensinya adalah
perusahaan harus memahami betul siapa pasar sasarannya, sekaligus
bagaimana perilaku mereka.
Untuk menemukan target market, ada empat kegiatan yang perlu dilakukan
oleh perusahaan yaitu (1) mengukur dan memperkirakan permintaan; (2)
mensegmentasi pasar (market segementation); memilih pasar sasaran
(market tergeting); dan menentukan posisi pasar (market positioning).
5.1 Mengukur dan Memperkirakan Permintaan Produk Perikanan dan Kelautan
Ada dua cara untuk memperkirakan permintaan produk perikanan dan kelautan yaitu dengan (1) pendekatan fundamental yaitu mengukur dan memperkirakan permintaan dengan cara menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan, seperti pertumbuhan pasar, pendapatan, kondisi ekonomi, gaya hidup dan lain-lain; (2) pendekatan teknis melakukan pengukuran dengan melihat kecenderungan permintaan pada masa lalu, yang dianalisis secara statistik untuk mengukur besarnya permintaan saat ini dan masa yang akan datang.
5.2 Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah proses untuk menggolong-golongkan pasar ke dalam
segmen-segmen. Segmen adalah sekumpulan konsumen yang memberikan
respons yang sama terhadap stimuli pemasaran tertentu. Segmentasi pasar
dapat didasarkan pada
1. geografis : tempat tinggal, kota, wilayah, dst
2. demografis : jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendapatan, dst
3. psikografis : gaya hidup, kepribadian, kelas sosial
4. perilaku : tingkat penggunaan, manfaat yang dicari, saat menggunakan, dst.
5.3 Pemilihan Pasar Sasaran
Setelah mensegmentasi pasar, perusahaan harus memilih segmen mana yang menjadi pasar sasaran. Sasaran ini bisa satu segmen, beberapa segmen, malah seluruh segmen.
5.4 Penentuan posisi pasar
Setelah menetapkan kalangan mana yang menjadi sasaran, perusahaan perlu
memperkuat kehadiran perusahaan pada kalangan tersebut. Untuk itu
perusahaan perlu membentuk posisi produk. Posisi produk adalah suatu
tempat yang diduduki produk secara relatif terhadap pesaing. Perlu saya
sampaikan disini, bahwa tempat disini bukanlah ruang (space) secara
fisik, melainkan tempat berupa image di dalam ruang benak konsumen.
Seperti saya uraikan sebelumnya bahwa kendala pemasaran produk perikanan
dan kelautan adalah sangat erat berkaitan dengan image produk misalnya
lele jenis ikan rendah, udang mahal, udang prestise, ikan membuat
alergi, ikan baunya amis, ikan mengolahnya merepotkan, ikan hanya bisa
digoreng, dan lain-lain.
Untuk mendapat image yang baik sesuai dengan target market dan
segmentasi pasar, maka rubahlah image lele jenis ikan yang ekonomis
penting, bisa dibuat aneka produk berkelas, harga terjangkau,
tempat-tempat yang biasa didatangi masyarakat kelas atas pun juga
menyediakan diversifikasi olahan lele, sehingga image lele baik pada
semua segmen pasar. Sebaliknya untuk udang, bagaimana merubah image
udang tidak mahal dan udang dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan,
sehingga produk udang terserap untuk memenuhi pasar domestik. Bagaimana
merubah image bahwa tidak semua ikan membuat alergi, ikan tidak amis,
ikan tidak merepotkan dalam memasak, ikan tidak hanya digoreng melainkan
banyak alternatif jenis olahan ikan. Semua itu perlu daya kreatifitas
produsen dan marketer untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.
6. PERILAKU KONSUMEN
Perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. Bitta dan Loudan dalam Simamora (2003 : 80), mengatakan bahwa perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan mengajak aktivitas individu dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau mengatur barang dan jasa. Kotler dan Amstrong (1997), mengatakan bahwa perilaku konsumen adalah perilaku pembelian akhir, baik individu maupun rumah tangga, yang memebeli produk untuk konsumsi personal. Riniwati (2005), mengatakan bahwa perilaku knsumen adalah bagaimana konsumen membuat keputusan tentang pemilihan diantara berbagai macam barang yang akan dibeli dan berapa jumlahnya. Demikian juga Hunt (1983), mengatakan perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dalam pembelian barang.
6.1 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen anta lain :
1. Psikologi (motivasi, persepsi, learning, kepercayaan, sikap)
2. Personal (usia, tahap daur hidup, jabatan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian, konsep diri)
3. Sosial (kelompok rujukan seperti teman kampus, persekutuan doa, pengajian, perkumpulan olah raga, dll)
4. Kebudayaan (kultur, sub kultur, kelas sosial)
6.2 Proses Keputusan Membeli
6.3 Model Perilaku Konsumen (Simamora, 2003 : 99)
7. ORGANISASI DAN KELEMBAGAAN PEMASARAN AGRIBISNIS DAN AGROINDUSTRI
Menurut Downey dan Erickson (1989), empat bentuk dasar usaha yaitu perusahaan perorangan (single proprietorship), persekutuan, perseroan (badan hukum) dan koperasi. Pada kelembagaan pemasaran, menurut Hanafiah dan Saefuddin (1983) digolonglan menjadi 3 yaitu produsen, pedagang perantara dan lembaga pemberi jasa. Pedagang perantara meliputi lembaga pengumpul hasil perikanan; pedagang besar, pedagang eceran.
7.1 Lembaga Pengumpul Hasil Perikanan
Di daerah produksi perikanan di Indonesia dijumpai beberapa lembaga yang
mengumpul (membeli) hasil perikanan dari nelayan dan pembudidaya ikan.
Lembaga pengumpul hasil perikanan atau pengepul, dapat berupa usaha
perorangan, persekutuan, perseroan dan koperasi.
7.2 Pedagang Besar (wholesaler/grosir)
Pedagang besar (grosir), memperdagangkan barang dalam jumlah lebih
besar. Pedagang ini aktif di pasar-pasar pusat dan memperoleh barang
dari pedagang pengumpul lokal. Pedagang besar ini juga sering mendatangi
pasar pelelangan di daerah produksi untuk membeli barang dan seringkali
juga membeli barang secara langsung dari produsen. Kemudian barang
dagangan itu dijual dalam jumlah lebih kecil kepada pedagang eceran.
Selain tugas utamanya melayani permintaan pedagang eceran, wholesaler
menjual pula barangnya ke hotel, restauran, pabrik pengolahan atau
lembaga lain.
7.3 Pedagang Eceran
Lembaga pengecer adalah perantara yang menjual barang-barang dalam
jumlah kecil secara langsung kepada para konsumen akhir
(household-consumer). Biasanya lembaga ini menerima barang dari
wholesaler dan terkadang dari para pengumpul lokal (tengkulak) atau
produsen.
7.4 Lembaga Pemberi Jasa
Lembaga pemberi jasa atau disebut agent middlemen adalah badan yang
membantu memberi jasa atau fasilitas untuk memudahkan pelaksanaan
kegiatan pemasaran. Mereka yang melaksanakan fungsi pemasaran tertentu
dengan menerima komisi sebagai balas jasa. Contoh : broker atau makelar
atau calo, agen penjualan (selling agents), komisioner, juru lelang, dll
8. TANTANGAN PEMASARAN PRODUK PERIKANAN DAN KELAUTAN
1. Image terhadap produk perikanan (ikan jenis rendah, mahal, alergi,
amis, rumit memasaknya, pengetahuan diversifikasi olahan, dll)
2. Produk perikanan dan kelautan termasuk mudah rusak, sehingga perlu biaya mahal dan perlu penanganan yang tepat.
3. Resesi ekonomi
4. Perubahan perilaku konsumen
5. Perdagangan bebas
6. Berwawasan lingkungan
9. KASUS-KASUS PEMASARAN
• Udang Indonesia dibakar di pasar Uni Eropa, kasus kandungan antibiotik
• Kasus kandungan formalin pada produk perikanan dan kelautan yang sempat menghebohkan dunia perikanan.
Informasi lebih lanjut bisa menghubungi :
Aldino Gibran Lubis, S.Pi
Penyuluh Perikanan Muda
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai.
HP / WA : 081361976655.
Komentar
Posting Komentar